Kamis, 18 November 2010

tentang hati

Setiap orang mempunyai cita-cita
akan melakukan berbagai upaya
untuk memburu apa yang
diinginkannya.Pecinta harta akan
melakukan berbagai upaya untuk
mengumpulkan dan mengembangkannya. Dan ia juga
akan mempelajari keterampilan
bisnis dan cara mencari
keuntungan. Stasiun-stasiun televisi akan
melakukan berbagai upaya untuk
menjaring pemirsa dengan
menyajikan aneka program atau
acara dan memilih gaya-gaya
yang up to date. Juga melalui pelatihan berbagai macam
keterampilan yang diberikan
kepada presenter (pembawa
acara) dalam rangka menarik
minat masyarakat untuk
mengikuti acaranya. Hal yang sama, berlaku pada
pengelola media cetak dan radio.
Termasuk pada penjual barang-
barang lainnya, baik halal
maupun haram.Mereka semua
sangat tekun dalam memantapkan keterampilan-
keterampilan yang berguna bagi
mereka di bidang yang mereka
geluti. Memikat hati manusia adalah
bidang yang membutuhkan trik-
trik dan kiat-kiat khusus.
Taruhlah anda masuk ke dalam
ruangan yang di dalamnya
terdapat 40 orang misalnya. Kemudian anda menghampiri
mereka semua untuk bersalaman
satu persatu.
Ada yang ketika anda
mengulurkan tangan kepadanya
dia memberikan ujung jarinya sambil berkata dengan dingin:
“Selamat datang. Selamat datang.” Ada yang sibuk berbicara dengan orang lain
kemudian anda mengejutkannya
dengan ucapan salam. Lalu ia
menjawab dengan dingin dan
menjabat tangan anda tanpa
memandang ke arah anda. Ada yang sibuk berbicara dengan
ponselnya. Lalu ia mengulurkan
tangannya kepada anda tanpa
mengucapkan sepatah kata atau
menunjukkan sedikit perhatian
kepada anda. Dan ada yang ketika melihat
anda menuju ke arahnya, ia
berdiri dan bersiap-siap
menyambut anda. Lalu ketika mata anda
bertatapan dengan matanya, ia
tersenyum dan menujukkan raut
muka yang ceria karena
berjumpa dengan anda. Dia
menjabat tangan anda dengan hangat. Dan dia menyambut
kedatangan anda dengan ramah.
Padahal anda tidak mengenalnya
dan dia pun tidak mengenal anda.
Kemudian anda melanjutkan
salaman anda dengan yang lainnya dan duduk. Demi Allah,
jawablah dengan jujur! Bukankah
hati anda tertarik kepada orang
tersebut? Pasti. Hati anda akan tertarik
kepadanya. Padahal anda tidak
mengenalnya; tidak tahu
namanya; dan tidak tahu profesi
atau jabatannya. Meskipun
demikian, dia telah berhasil memikat hati anda. Bukan
dengan hartanya, jabatannya,
status sosialnya, atau nasabnya,
melainkan dengan keterampilan
bergaulnya. Jadi, hati manusia tidak perlu
dipikat dengan kekuatan,
kekayaan, kecantikan, atau
jabatan. Tapi cukup dipikat
dengan sesuatu yang lebih kecil
dan lebih mudah dari itu. Namun demikian, hanya sedikit orang
yang mampu memikatnya. Saya teringat salah satu
mahasiswa saya yang mengidap
gangguan kejiwaan. Dia
mengalami depresi berat.
Ayahnya adalah perwira yang
menduduki jabatan tinggi. Berulang kali ia datang ke
fakultas untuk menemui saya.
Dan kami pun bekerja sama
untuk mengobati anaknya.
Kadang-kadnag saya pergi ke
rumah mereka. Saya melihat rumah mereka seperti istana
yang megah. Dan saya melihat
ruang tamu ayahnya dipenuhi
oleh para tamu. Hampir tidak ada
tempat yang kosong. Saat itu
saya kagum pada kecintaan masyarakat dan antusiasme
mereka kepadanya. Beberapa tahun kemudian – setelah sang ayah pensiun dari
jabatannya- saya pergi
berkunjung ke rumahnya. Saya
masuk ke dalam istana itu dan
menuju ke ruang tamu yang
berisi lebih 50 buah kursi. Ternyata di situ hanya ada
seorang laki-laki yang sedang
menonton televisi dan seorang
pembantu yang menghidangkan
teh dan kopi. Saya duduk
dengannya sebentar saja. Setelah keluar saya teringat
akan keadaannya sewaktu dia
masih memegang jabatan dan
keadaannya sekarang. Apa yang dulu membuat orang
banyak berkumpul dan
berkerumun di sekelilingnya
sambil menunjukkan keramahan
dan kecintaan. Pada saat itulah
saya menyadari bahwa orang tersebut tidak memikat hati
manusia dengan akhlaknya,
kelembutannya dan cara
bergaulnya yang baik, melainkan
dengan jabatan, pengaruh dan
hubungannya yang luas. Sehingga ketika jabatan itu hilang, maka
kecintaan orangpun hilang. Maka ambillah pelajaran dari
kawan kita ini. Dan perlakukanlah
semua orang dengan
keterampilan-keterampilan yang
bisa membuat mereka menyukai
anda karena pribadi anda. Mereka menyukai pembicaraan
anda, senyum anda, kelembutan
anda, dan cara bergaul anda
yang baik. Mereka menyukai
karena anda mau memaafkan
kesalahan mereka dan mau peduli terhadap musibah yang
menimpa mereka. Jangan membuat hati mereka
terpaut dengan kursi dan
dompet anda. Orang yang
memberikan harta, makanan dna
minuman kepada anak-anak dan
istrinya tidak bisa memikat hati mereka, melainkan memikat
perut mereka. Dan orang
melimpahkan uang kepada
keluarganya, tapi berkelakuan
buruk kepada mereka tidak bisa
memikat hati mereka, melainkan memikat dompet mereka. Oleh karena itu, jangan heran
bila anda menjumpai pemuda
yang dirundung masalah
mengadukan masalahnya kepada
teman, imam masjid, atau
gurunya dan mengabaikan ayahnya. Karena sang ayah tidak
bisa memikat hatinya dan tidak
bisa menghancurkan sekat-sekat
yang ada di antara mereka.
Sementara hatinya dipikat oleh
guru atau temannya. Bahkan terkadang dipikat oleh musuh
yang jahat. Bukankah anda juga
memperhatikan seperti saya
ketika seseorang masuk ke
ruangan yang penuh sesak dan
tengak-tengok mencari tempat
duduk yang kosong, maka semua orang berebut mencari
perhatiannya. Semua orang
memanggilnya dan ingin duduk di
sampinnya. Mengapa? Pernahkah anda diundang untuk
menghadiri acara makan malam
dengan sistem prasmanan. Yakni,
setiap orang mengambil makan
sendiri-sendiri dan di meja
bundar yang disediakan. Bukankah anda pernah melihat
orang yang setelah mengambil
makanan, maka banyak orang
yang memberikan isyarat
kepadanya supaya duduk
bersama mereka. Sementara orang lainnya
mengambil makanan dan tengak-
tengok, tetapi tidak ada seorang
pun yang memanggilnya atau
mendekatinya. Sehingga kedua
kakinya membawanya ke salah satu meja yang ada. Mengapa orang-orang itu peduli
kepada orang pertama dan tidak
peduli kepada orang yang
kedua? Bukankah anda merasa bahwa
sebagian orang selalu disukai
oleh orang lain di manapun ia
berada. Seolah-olah ia memegang
magnet yang bisa menyedot hati
mereka. Sungguh mengagumkan! Bagaimana mereka semua bisa
memikat hati manusia?!
Itu adalah trik-trik cerdas yang
bisa digunakan oleh seseorang
untuk memikat hati manusia. Keputusan… Kemampuan kita untuk memikat
hati orang lain dan mendapatkan
cinta mereka yang tulus
akan memberi kita kenikmatan
hidup yang besar.

heart managing

RIZKY FAHLEVI: hati

Rabu, 17 November 2010

check it

Hanya Tuhan Yang Tahu Album : You And I See
Munsyid : Unic
http://liriknasyid.com
Ku pendamkan perasaan ini
Ku rahsiakan rasa hati ini
Melindungkan kasih yang berputik
Tersembunyi di dasar hati
Ku pohonkan petunjuk Ilahi
Hadirkanlah insan yang sejati
Menemani kesepian ini
Mendamaikan sekeping hati Oh Tuhanku
Berikanlah ketenangan abadi
Untukku menghadapi
Resahnya hati ini mendambakan
kasih
Insan yang ku sayang C/o:
Di hati ini
Hanya Tuhan yang tahu
Di hati ini
Aku rindu padamu
Tulus sanubari Menantikan hadirmu
Hanyalah kau gadis pilihanku
Kerana batasan adat dan syariat
Menguji kekuatan keteguhan
iman
insan yang berkasih

ibadah

IBRAH IDUL ADHA

a. Kepribadian Nabi Ibrahim,
yang demikian total
menunjukkan ketaatannya
kepada Allah. Tidak terlihat
dalam sikapanya sebuah
keraguan, atau keberatan. Begitu menerima perintah
dari Allah untuk
menyembelih anak
kesayangannya, Ismail, -
anak yang ditunggu-
tunggu kelahirannya sekian lama sampai ia mencapai
usia tua - Nabi Ibrahim
langsung mendatangi Ismail
dan menympaikan perintah
tersebut. Padahal secara
psikologis Nabi Ibrahim sungguh sangat
membutuhkan seorang
keuturunan. Bayangkan, di
tengah pengembaraan
yang jauh, di sebuah
lembah padang sahara yang kering, tanpa
pohonan dan tanaman, Nabi
Ibrahim hidup. Ditambah lagi
usianya yang memang
sudah sangat mebutuhkan
seorang anak muda untuk menopang
ketidakmampuannya. Tapi
lihatlah, totalitas
penyerahan diri Nabi
Ibrahim kepada Sang
Pemilik Bumi dan langit. b. Kepribadian Nabi Ismail,
yang benar-benar
memhami keaguangan
perintah Allah. Artinya
bahwa perintah itu harus
segera dilaksanakan. Tidak usah ditawar-tawar dan
ditunda-tunda lagi.
Seketika ia berserah diri
dengan penuh kesabaran.
Sungguh ungkapan Nabi
Ismail dengan panggilan "yaa abati"
mengekspresikan kecintaan
nabi Ismail dan
kedekatannya kepada sang
ayah, pun juga kepasrahan
totalnya terhadap perintah Allah, dimana dengan
ungkapan itu tergambar
dengan jelas bahwa ia
tidak merasa kaget sama
sekali. Melainkan langsung
menerimanya dengan lapang dada dan penuh
kepasrahan. c. Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi
Ismail, yang tanpa banyak
bicara dan diskusi dalam
menerima "isyarat" yang
terlihat dalam mimpinya
"ru'ya", di mana kaduanya langsung bergerak menuju
tempat penyembelihan. Nabi
Ismail langsung berbaring,
meletakkan pelipisnya ke
bumi. Nabi Ibrahim langsung
bergerak untuk menyembelihnya. Sungguh
sebuah pemandangan yang
sangat mengharukan. Dan
dari peristiwa itu terlihat
dengan jelas hakikat
kepasrahan dan ketaatan yang hakiki dari kedua
hamba tersebut, kepada
Allah, Tuhannya. Allah
seketika menyaksikan
kesungguhan kedua hamba
itu dalam mentaati perintah-Nya. Allah
berfirman "qad saddaqta
ru'ya", kau telah
membenarkan "ru'ya" itu
(wahai Ibrahim), dan kau
telah melaksanakannya. Allah seketika pula
menggantikan Nabi Ismail
dengan seekor sembelihan
yang besar. Sebab yang
paling utama dari hakikat
qurban ini, adalah sejauh mana tingkat kepasrahan
sang hamba kepada Allah
SWT, dan sejauh mana
tingkat ketaatannya
kepada-Nya, sejauh mana
tingkat ketabahannya dalam menjalani ajaran
yang telah Allah tetapkan.

Selasa, 16 November 2010

mencinta karena Rabb

Sesungguhnya diantara hamba-
hamba Allah, ada diantara
mereka yang orang-orang bukan
nabi dan bukan pula syuhada.
Pada hari kiamat, para nabi dan
syuhada menginginkan mereka menempati kedudukan mereka
yang berasal dari Allah. Para
sahabat bertanya, "Wahai
Rasullulah. Beritahukanlah kepada
kami, siapakah mereka
itu?"… .Beliau menjawab,"Mereka adalah kaum yang saling
mencintai karena Allah, bukan
karena pertalian darah dan tidak
ada harta yang saling diberikan.
Sungguh demi Allah, wajah
mereka laksana cahaya. Dan sesungguhnya mereka berada di
atas cahaya. Mereka tidak
merasa takut saat manusia
merasa takut dan mereka tidak
bersedih saat manusia bersedih".
(HR. Abu Daud)

NURUL ILMI

Senin, 15 November 2010

hati

Hati adalah Cermin Oleh : Zaldy Munir | 16- Okt-2007, 19:45:51 WIB KabarIndonesia - Hati adalah cermin pribadi setiap manusia. Lalu, cermin model manakah yang kita miliki dalam hati kita? Apakah hati kita bersih laksana cermin yang berkilau sehingga manantulkan perbuatan yang baik, ataukah malah kotor dan buram yang membuat kita selalu buruk? Hal ini sepertinya tergantung bagaimana kita merawat cermin hati yang kita miliki. Bila kita selalu menjaga hati agar selalu bersih dan bening, maka cerminan perbuatan yang muncul pun akan selalu baik dan benar. Sebaliknya, kalau selalu membiarkan cermin hati kita kotor, dengan hiasan perbuatan buruk kita, maka pantulan kaca hati kita pun menjadi buram. Empat Sifat Hati Iman Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengemukakan bahwa di hati manusia berkumpul empat sifat. Sifat Sabu'iyah (kebuasan), bahimiyah (kebinatangan), syaithaniyah (kesetanan), dan rabbaniyah (ketuhanan). Masing- masing sifat itu bisa saling mengalahkan, tergantung dari manusia itu sendiri. Kalau sifat rububiyahnya yang menang, akan timbul sifat manusia itu menjadi baik. Seperti mampu menahan hawa nafsu, qana'ah, iffah, zuhud, jujur, tawadhu, dan sejumlah sifat baik lainnya. Manusia dengan hati yang demikian itu, senantiasa mengingat Allah. Dengan demikian, jiwanya selalu tenang dan tentaram. "(yaitu) orang- orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (QS. Ar-Rad [13] : 28). Inilah hati orang-orang yang beriman. Tidak ada kebencian, kedengkian, kesombongan, dan penyakit hati lainnya yang bersarang di dadanya. Seperti dikatakan Rasullulah dalam sebuah Hadits. "Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar. Maka, itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik, maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak." (HR. Ahmad dan Thabrani). Sementara hati yang kotor, tentunya mencerminkan perbuatan yang kotor pula. Inilah orang-orang kafir. Segala perbuatan yang dilakukannya selalu jelek dan bertentangan dengan perintah Allah. Hal ini terjadi karena cermin dari hati yang kotor itu. Akibatnya, mamantul kepada perbuatannya. Alquran menyebutkan, hati mereka telah terkunci dengan kebenaran. Bagi mereka, dinasehati atau tidak, sama saja. Selalu yang dilakukan perbuatan buruk. Karena cermin hatinya telah terkunci dengan kotoran. "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang sangat berat." (QS. Al-Baqarah [2] : 6-7) Sedangkan orang-orang munafik, di hati mereka terdapat penyakit. "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyekitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka dusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang- orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (QS. Al-Baqarah [2] : 10-12). Begitulah fenomena sebuah hati, yang merupakan cermin bagi setiap tindak-tanduk manusia. Bila cermin itu bening, maka yang memantul adalah perbuatan baik. Sebaliknya, bila hati itu kotor maka yang muncul adalah suara atau perbuatan jelak dan kemaksiatan. Dengan demikian, ketika ada orang yang mengatakan ‘ hati nurani adalah suara kebenaran,' itu tidak selalu benar. Ini tergantung dari hati nurani siapa dahulu. Kalau hati nurani orang- orang yang beriman, itu memang suara kebenaran. Akan tetapi, kalau hati nurani orang kafir atau orang munafik, itu pasti adalah suara keburukan dan penipuan. Karena itulah, bagi setiap orang beriman diperintahkan selalu menjaga kebeningan hatinya, yaitu dengan selalu menjalankan perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Dengan begitu, berarti ia senantaisa menjaga kebeningan hati. Sehingga cermin yang ada di hatinya selalu bening dan akan memunculkan perbuatan yang baik. ***