a. Kepribadian Nabi Ibrahim,
yang demikian total
menunjukkan ketaatannya
kepada Allah. Tidak terlihat
dalam sikapanya sebuah
keraguan, atau keberatan. Begitu menerima perintah
dari Allah untuk
menyembelih anak
kesayangannya, Ismail, -
anak yang ditunggu-
tunggu kelahirannya sekian lama sampai ia mencapai
usia tua - Nabi Ibrahim
langsung mendatangi Ismail
dan menympaikan perintah
tersebut. Padahal secara
psikologis Nabi Ibrahim sungguh sangat
membutuhkan seorang
keuturunan. Bayangkan, di
tengah pengembaraan
yang jauh, di sebuah
lembah padang sahara yang kering, tanpa
pohonan dan tanaman, Nabi
Ibrahim hidup. Ditambah lagi
usianya yang memang
sudah sangat mebutuhkan
seorang anak muda untuk menopang
ketidakmampuannya. Tapi
lihatlah, totalitas
penyerahan diri Nabi
Ibrahim kepada Sang
Pemilik Bumi dan langit. b. Kepribadian Nabi Ismail,
yang benar-benar
memhami keaguangan
perintah Allah. Artinya
bahwa perintah itu harus
segera dilaksanakan. Tidak usah ditawar-tawar dan
ditunda-tunda lagi.
Seketika ia berserah diri
dengan penuh kesabaran.
Sungguh ungkapan Nabi
Ismail dengan panggilan "yaa abati"
mengekspresikan kecintaan
nabi Ismail dan
kedekatannya kepada sang
ayah, pun juga kepasrahan
totalnya terhadap perintah Allah, dimana dengan
ungkapan itu tergambar
dengan jelas bahwa ia
tidak merasa kaget sama
sekali. Melainkan langsung
menerimanya dengan lapang dada dan penuh
kepasrahan. c. Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi
Ismail, yang tanpa banyak
bicara dan diskusi dalam
menerima "isyarat" yang
terlihat dalam mimpinya
"ru'ya", di mana kaduanya langsung bergerak menuju
tempat penyembelihan. Nabi
Ismail langsung berbaring,
meletakkan pelipisnya ke
bumi. Nabi Ibrahim langsung
bergerak untuk menyembelihnya. Sungguh
sebuah pemandangan yang
sangat mengharukan. Dan
dari peristiwa itu terlihat
dengan jelas hakikat
kepasrahan dan ketaatan yang hakiki dari kedua
hamba tersebut, kepada
Allah, Tuhannya. Allah
seketika menyaksikan
kesungguhan kedua hamba
itu dalam mentaati perintah-Nya. Allah
berfirman "qad saddaqta
ru'ya", kau telah
membenarkan "ru'ya" itu
(wahai Ibrahim), dan kau
telah melaksanakannya. Allah seketika pula
menggantikan Nabi Ismail
dengan seekor sembelihan
yang besar. Sebab yang
paling utama dari hakikat
qurban ini, adalah sejauh mana tingkat kepasrahan
sang hamba kepada Allah
SWT, dan sejauh mana
tingkat ketaatannya
kepada-Nya, sejauh mana
tingkat ketabahannya dalam menjalani ajaran
yang telah Allah tetapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar